ESTORIA - Sebuah draf memorandum kesepahaman (MoU) yang tengah dibahas secara intensif antara Iran dan Amerika Serikat mulai mengungkap gambaran besar yang berpotensi mengubah peta politik dan ekonomi Timur Tengah. Dokumen berisi 14 poin tersebut tidak hanya memuat skema penghentian konflik, tetapi juga menawarkan paket pemulihan ekonomi raksasa senilai USD300 miliar atau sekitar Rp5.316 triliun untuk Iran.
Dikutip dari AzerNEWS. rancangan kesepakatan itu menjadi salah satu proposal paling ambisius yang pernah dibahas kedua negara setelah puluhan tahun hubungan penuh ketegangan. Dana rekonstruksi tersebut disebut akan didukung oleh Amerika Serikat bersama negara-negara sekutunya, terutama dari kawasan Arab.
Jika disepakati, Iran akan memperoleh sejumlah keuntungan strategis. Selain pencabutan berbagai sanksi ekonomi yang selama ini membatasi ekspor minyak dan sektor petrokimia, Teheran juga berpeluang mendapatkan kembali akses terhadap aset-aset keuangannya yang selama bertahun-tahun dibekukan di luar negeri.
Dalam draf tersebut, Washington juga disebut akan mendukung pembukaan kembali jalur perdagangan maritim, termasuk normalisasi aktivitas di Selat Hormuz yang selama ini menjadi salah satu titik paling sensitif dalam geopolitik global. Tidak hanya itu, AS bahkan disebut siap menahan diri untuk tidak menambah pasukan militer di kawasan maupun menerapkan sanksi baru selama proses negosiasi berlangsung.
Salah satu poin yang paling menarik perhatian adalah rencana pencairan aset Iran senilai USD24 miliar atau sekitar Rp425 triliun. Setengah dari dana itu disebut akan ditransfer lebih dulu sebelum negosiasi resmi dimulai sebagai bentuk komitmen awal terhadap proses diplomasi.
Di sisi lain, Iran juga diminta menegaskan kembali komitmennya terhadap Perjanjian Non-Proliferasi Nuklir (NPT) dan memastikan program nuklirnya tidak diarahkan untuk pengembangan senjata nuklir. Untuk mencapai kesepakatan permanen, kedua pihak akan membuka jendela negosiasi selama 60 hari yang secara khusus membahas isu nuklir dan pencabutan sanksi.
Menariknya, draf tersebut secara tegas mengecualikan program rudal Iran dan dukungan Teheran terhadap kelompok-kelompok perlawanan di kawasan dari agenda pembahasan akhir. Fokus utama negosiasi hanya akan mencakup status uranium yang telah diperkaya, mekanisme pengayaan, pencabutan sanksi, serta pemulihan ekonomi Iran.
Namun jalan menuju kesepakatan masih panjang. Sejumlah syarat awal harus dipenuhi sebelum perundingan formal dimulai, mulai dari pelepasan sebagian aset yang dibekukan, penangguhan sanksi minyak, hingga pembongkaran blokade maritim. Setelah itu, hasil kesepakatan juga direncanakan untuk diratifikasi melalui resolusi Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).
Sumber-sumber yang terlibat dalam pembahasan menegaskan bahwa seluruh rancangan tersebut masih bersifat draf dan dapat mengalami perubahan. Pemerintah Iran sendiri disebut masih melakukan peninjauan internal sebelum memberikan keputusan final.