Ia berharap kolaborasi antara Nahdlatul Ulama dan pemerintah daerah terus diperkuat agar mampu menjadi energi bersama dalam menjaga harmoni sosial sekaligus mendorong percepatan pembangunan di Kabupaten Sumenep.
Sementara itu, Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), KH Yahya Cholil Staquf, mengingatkan bahwa tradisi Islam Ahlussunnah wal Jamaah telah tumbuh dan mengakar kuat di tengah masyarakat jauh sebelum Nahdlatul Ulama didirikan.
Menurut Gus Yahya, para kiai sejak dahulu telah menjalankan khidmah kepada umat melalui pesantren serta gerakan sosial keagamaan. Kehadiran NU kemudian menjadi wadah untuk menyatukan kekuatan besar para ulama tersebut.
“Sebelum NU berdiri, tradisi Islam Aswaja sudah mengakar dan banyak pesantren telah berdiri lebih dahulu,” ujar Gus Yahya.
Ia menegaskan bahwa pendiri NU, KH Hasyim Asy’ari, membangun organisasi dengan semangat persatuan, kasih sayang, dan cinta antarsesama ulama sebagaimana tertuang dalam Qanun Asasi Nahdlatul Ulama.
“Mari kita ingat kembali tujuan paling mendasar didirikannya NU dan bersatu secara lahir maupun batin,” tegasnya.
Dalam kesempatan itu, Gus Yahya juga memaparkan arah transformasi yang tengah dijalankan PBNU, mulai dari transformasi jam’iyah, reposisi strategis organisasi di tengah konstelasi politik nasional, hingga penguatan peran internasional Nahdlatul Ulama.