Dalam beberapa tahun terakhir, PSBK mengalami revitalisasi. Pada 2024, kawasan PSBK diresmikan kembali dengan wajah baru, sebuah arsitektur karya Eko Prawoto, dukungan Kementerian PUPR, serta semangat keberlanjutan seni.

Butet, yang duduk sebagai Ketua/Dewan Pembina Yayasan, memastikan tempat ini tetap hidup sebagai “rumah bersama” seniman.

Warisan Bagong diteruskan bukan dengan meniru, melainkan dengan memperluas.

Humor sebagai Kritik Serius

Banyak yang menyebut Butet “pelawak.” Ia menolak label itu. Baginya, ia adalah aktor yang menggunakan humor sebagai metode.

“Kalau pelawak sekadar membuat orang tertawa, aku ingin orang tertawa lalu berpikir,” ujarnya dalam berbagai kesempatan.

Strateginya sederhana tapi tajam:

  • Impersonasi (menirukan suara Soeharto, gaya pejabat)
  • Dialog kontras (Ndoro Sentilan vs Sentilun)
  • Bahasa plesetan (menggunakan peribahasa Jawa atau sindiran lokal)

Di tangan Butet, humor tidak pernah kosong. Ia selalu membawa “sting”, sengatan kecil yang mengingatkan publik bahwa demokrasi butuh kewaspadaan.

Antara Panggung dan Politik

Dalam perjalanan kariernya, Butet kerap menuai risiko. Puisinya, monolognya, atau sekadar pantun di sebuah forum bisa memantik polemik. Namun ia tidak mundur.

“Kalau seni hanya untuk menghibur, ia berhenti di tawa. Kalau seni untuk mengingatkan, ia bisa menyalakan kesadaran,” begitu kira-kira prinsip Butet.

Maka tidak heran, ia kerap diundang bukan hanya ke panggung seni, tetapi juga forum politik, konferensi kebudayaan, bahkan diskusi akademik lintas negara.