"Indonesia Kita" Panggung Kebinekaan
Sejak 2011, bersama Agus Noor dan Djaduk Ferianto, Butet menggagas program teater populer "Indonesia Kita".
Pertunjukan ini rutin digelar di Graha Bhakti Budaya, Taman Ismail Marzuki, dengan format drama musikal komedi yang mengangkat isu kebinekaan dan persatuan.
Lewat "Indonesia Kita", Butet membuktikan bahwa panggung bisa menjadi ruang edukasi kebangsaan yang tetap menghibur.
Jejak, Warisan, dan Relevansi
Kini, di usia lebih dari enam dekade, Butet Kartaredjasa tetap aktif. Rambutnya memang memutih, tapi lidahnya tidak pernah pingsan.
Dari Gandrik hingga Metro TV, dari PSBK hingga panggung Indonesia Kita, Butet mewakili sebuah tradisi satir Indonesia.
Ketika humor menjadi jalan paling aman dan paling cerdas untuk bicara serius tentang bangsa.
Ia bukan politisi, tapi pidatonya didengar. Ia bukan akademisi, tapi gagasannya ditelaah. Ia bukan komedian semata, tapi tanpa humornya, publik bisa kehilangan cara untuk menertawakan kekuasaan yang berlebihan.
Butet adalah contoh bahwa dalam demokrasi, tertawa bisa menjadi bentuk perlawanan paling elegan.
Butet Kartaredjasa lebih dari sekadar “raja monolog.” Ia adalah penjaga lidah bangsa, yang memastikan bahwa kata-kata tidak dibungkam, melainkan terus mengalir. Kadang getir, sering lucu, tapi selalu menyentuh inti.
Di tengah zaman ketika kritik sering dianggap ancaman, Butet membuktikan, bahwa tertawa adalah jalan menuju kewarasan. ***