Angka tersebut sedikit lebih tinggi dibandingkan China yang berada di angka 76 persen dan hanya terpaut tipis dari Afrika Selatan dengan skor 79 persen.
Purbaya menjelaskan, posisi tersebut menunjukkan Indonesia memiliki kapasitas yang cukup kuat untuk menghadapi potensi gangguan pasokan energi dunia. Faktor pendukungnya antara lain pengelolaan fiskal yang hati-hati serta kemampuan APBN menjadi bantalan ketika tekanan ekonomi eksternal muncul.
Industri dan Perbankan Tetap Ekspansif
Di sektor riil, aktivitas ekonomi nasional juga disebut masih bergerak positif. Purchasing Managers' Index (PMI) manufaktur berada di level 50,0 yang menandakan industri masih dalam fase ekspansi.
Sementara itu, pertumbuhan uang primer meningkat 14,8 persen secara tahunan, menandakan likuiditas ekonomi tetap terjaga. Sektor perbankan juga mencatat pertumbuhan kredit sebesar 11,5 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Dari sisi perdagangan luar negeri, Indonesia masih mempertahankan surplus neraca perdagangan selama 72 bulan berturut-turut. Cadangan devisa nasional juga tetap kuat di level US$144,9 miliar, cukup untuk membiayai impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah selama 5,6 bulan.