Dari enam konsorsium yang mengajukan proposal, hanya dua yang berhasil lolos ke tahap akhir setelah melewati proses penyaringan yang melibatkan lebih dari 60 tenaga ahli dari berbagai bidang, mulai dari teknis, hukum, keuangan hingga lingkungan.

 

Menurut Pandu, tim tersebut juga memiliki pengalaman menangani proyek PSEL di berbagai negara seperti Thailand, Australia, Malaysia, Kuwait, China, Irlandia, dan Jerman.

 

Secara operasional, proyek ini ditargetkan mampu mengolah lebih dari 500 ribu ton sampah setiap tahun, atau sekitar 40 persen dari total timbunan sampah di Bali.

Selain mengurangi volume sampah yang masuk ke tempat pembuangan akhir hingga sekitar 80 persen, fasilitas ini juga diproyeksikan mampu menekan emisi karbon sebesar 640 ribu ton CO₂ per tahun.

 

Di sektor energi, PSEL Bali diperkirakan mampu memasok listrik hijau bagi sekitar 100 ribu rumah tangga, sekaligus menciptakan sekitar 1.200 lapangan kerja hijau.

 

Pandu berharap proyek ini menjadi langkah nyata menuju Indonesia yang lebih bersih, sehat, dan berkelanjutan, dengan Bali sebagai titik awal transformasi pengelolaan sampah nasional.